Senin, 29 September 2014

Secangkir Kopi di Mesuji

Akhir akhir ini...hentakan kehidupan mesuji terasa begitu keras. Saat truk truk besar melintasi jalan poros sungai Badak membawa muatan pasir urug,,maka bersama itu pula badai debu menyelimuti kami.
Tentang seberapa sering aku termangu...ahhhhh..inilah rumahku sekarang.

Disini... Di kabupaten yang seharusnya masih jadi bagian dari Indonesia Raya, anak anak dibesarkan dengan entitas kesukuan yang luarbiasa kental.

Dia anak sungai ceper, wiralaga, karangsia, jawa. Hei...tanah air kita Indonesia kan?
Maka terheran sudah dengan pengkotak kotakan ini. Sekeren apa sih kalian dengan bersikap seperti itu? Maka ketika satu orang anak kami mintai bantuan untuk menggeser lemari..
"ahhh anak jawe bae lah bu "
Ingin rasanya menampar anak itu. Ingin rasanya menemui orangtua yang sebegitu kejamnya membesarkan buah hatinya dg pikiran picik.

Secangkir kopi di Mesuji.... Saat narkoba tidak beda dengan panadol yang banyak dijual di warung...saat taruhan jadi teman hela nafas mereka. Aihhhhh nak.... Siapkah kalian nantinya?

Tidak rela rasanya melihat anak anak ini, 5 tahun yg akan datang hanya jadi penonton. Menonton kantor pemda mereka dibangun dan diisi oleh orang dari luar Mesuji.

Tidak rela melihat mereka yg dipikirannya hanya terbayang berkayu,main togel,bilyar, jatuh sengsara, dan meratap nasib dipinggir kali mesuji.

Ahhhh...kopiku mulai habis

Tidak ada komentar:

Posting Komentar