the resident
Sabtu, 21 Januari 2017
Sekolah (tak) GRATIS???
Kamis, 26 November 2015
SELAMAT ULANG TAHUN MESUJI
semoga usia tujuh tahun menjadi proses yang menguatkan pondasi pembangunan daerah ini
semoga tidak ada lagi kuli tinta yang memaksa kami mengeluarkan 50 ribu atau lebih ketika datang ke sekolah kami.
semoga tidak ada lagi orangtua yang apatis dan melontarkan kalimat "pasti duitnya banyak" ketika si anak merengek melanjutkan kuliah.
semoga tidak ada lagi tatapan "tahu sama tahu" saat mendengar kabar tentang diterima sebagai pegawai di A,B,C dan D.
semoga.....
tiap orangtua di tanah ini mampu menanamkan nilai toleransi, bahwa tidak ada penggolongan perlakuan dalam bermasyarakat berdasarkan suku. "Ia Jawa, Ia Lampung, Ia Mesuji"
Semoga...
Masjid dan langgar penuh sesak oleh jamaah dari segala usia...
bukannya lapak tuak, bukannya kolong rumah panggung tempat judi togel...
bukannya puncak balam tempat memadu kasih.
semoga...
Oh iya....
Semoga Mesuji pun diakui dialeknya, bahasanya, budayanya oleh Propinsi Lampung.
Belum kering luka yang tertoreh karena anak kami dipaksa berbahasa Lampung, hanya karena kami bagian dari propinsi Lampung.
SEMOGA
Senin, 29 September 2014
Secangkir Kopi di Mesuji
Akhir akhir ini...hentakan kehidupan mesuji terasa begitu keras. Saat truk truk besar melintasi jalan poros sungai Badak membawa muatan pasir urug,,maka bersama itu pula badai debu menyelimuti kami.
Tentang seberapa sering aku termangu...ahhhhh..inilah rumahku sekarang.
Disini... Di kabupaten yang seharusnya masih jadi bagian dari Indonesia Raya, anak anak dibesarkan dengan entitas kesukuan yang luarbiasa kental.
Dia anak sungai ceper, wiralaga, karangsia, jawa. Hei...tanah air kita Indonesia kan?
Maka terheran sudah dengan pengkotak kotakan ini. Sekeren apa sih kalian dengan bersikap seperti itu? Maka ketika satu orang anak kami mintai bantuan untuk menggeser lemari..
"ahhh anak jawe bae lah bu "
Ingin rasanya menampar anak itu. Ingin rasanya menemui orangtua yang sebegitu kejamnya membesarkan buah hatinya dg pikiran picik.
Secangkir kopi di Mesuji.... Saat narkoba tidak beda dengan panadol yang banyak dijual di warung...saat taruhan jadi teman hela nafas mereka. Aihhhhh nak.... Siapkah kalian nantinya?
Tidak rela rasanya melihat anak anak ini, 5 tahun yg akan datang hanya jadi penonton. Menonton kantor pemda mereka dibangun dan diisi oleh orang dari luar Mesuji.
Tidak rela melihat mereka yg dipikirannya hanya terbayang berkayu,main togel,bilyar, jatuh sengsara, dan meratap nasib dipinggir kali mesuji.
Ahhhh...kopiku mulai habis
Senin, 15 September 2014
Kau akan tahu betapa televisi bukanlah berhala yg setiap hari perlu kita tengokki...
Di mesuji..betapa langit cerah begitu menggoda
saat anak anak usia SMA saling berebut perhatian..
Maka kita akan sadar..
ya,,,, terjadi penghancuran sistematis pada anak bangsa.
Bukankah mesuji masih menjadi bagian dari Indonesia raya?
Maka..sesekali tengoklah kami...
budak budak kecil yang suka nyore di pinggiran kali mesuji..
Bukankah kami masih menjadi bagian dari tanah tumpah darah Indonesia?
maka berikan kami akses pendidikan,kesehatan yang layak..
Sehingga tidak lagi kami merasa canggung menatap lagi saudara kami,, sebangsa, setanah air.
then I love u more,,,mesujiku
![]() |
| Vaita sedang rebutt. Dia siswa yg suka pelajaran sejarah, nilainya pun bagus. |

