Hahahaha,,,
oke,,setelan saya ternyata tidak di legal texting. Susah buat saya dapetin mood
nulis dengan bahasa formal,, sounds too serious. Oke,,, ini lebay lagi deh
kayaknya. Kenapa kok bawa bawa rahim???????? Hamil buk? Ama siapa?
Heheheheeeee.. Nope. Ini bener bener topik yang bikin saya elus elus dada. Fyuhhhhh.....
Ehm....
banyaknya kekagetan yang beberapa waktu saya alami bener bener bikin brain fogging. Menjadi bagian dari
keluarga besar Mesuji itu berkah. Bahkan, sampai detik inipun saya syukuri
dalam dalam. Betapa pengalaman hidup di Jogja menjadi rencana indah Gusti Allah
untuk bekal saya disini. Ya,,, inilah jalan yang sudah Gusti Allah gariskan ke
saya. Amazing. Hingga Nalar dan Hati saya tidak henti bersyukur atas semuanya.
:D Maturnuwun Gusti
Betapa
pertama kalinya saya menjejak tanah Mesuji ini menjadi awalan kehidupan mandiri
yang penuh perjuangan. Dan penempatan di Sungai Badak adalah rencana Indah lain
yang Gusti Allah kasih ke saya. DAERAH PERAIRAN. Perkampungan tua yang menjadi
cikal bakal mesuji. Lingkungan adat lama yang selama ini hanya saya baca di
buku, internet, dan pikiran liar saya. Walaupun kos-kosan saya 30 menit jauhnya
dari perairan, setidaknya, cukup memberi gambaran dimana saya mengabdi di
tahun-tahun ke depan.
Saya
tinggal di perkampungan Jawa. Inilah kenapa adaptasi saya dengan warga sekitar
termasuk lancar. Kesan pertama, saya
berasa hanya pindah kampung. Dengan bahasa yang memang kesehariannya saya
pakai, ibu ibu yang ramah, dan lingkungan yang menurut saya sih,, asri. Penduduk
Jawa ini awalnya saya pikir transmigran yang memang dulu digalakkan di masa
Presiden Soeharto. Tapi ternyata tidak. Mereka adalah para perantau berani yang
memang mengadu nasib mereka di pelosok Mesuji. Hebat kan?
Saya
dengar cerita mereka saat membuka lahan di mesuji. Bagaimana ikan gabus benar
benar seperti telur kodok di musim hujan, banyak, tinggal ambil :D Awalnya saya
pikir mereka dari jawa langsung ke mesuji. Ternyata salah Lagi (yeahhh,,
tebakan saya salah muluk). Mereka adalah generasi kedua di keluarga mereka.
Ayah Ibu mereka lah yang jauh jauh datang dari Jawa NGAPAK (banyumas,
Purwokerto, Kebumen, Brebes) ke Pulau Sumatra. Tujuan mula mereka memang di
daerah belitang. Itulah kenapa di Belitang, Jawa dominan, pun usaha pertanian
padinya menjadi lumbung di Sumatra ini. Generasi kedua inilah yang akhirnya
menyebar ke daerah daerah lain, termasuk mesuji.
Ya,
saya membayangkan tentang ketiadaan listrik, akses kesehatan yang jauh, jalanan
yang sulit, air bersih yang langka. Dan saya takjub dengan bagaimana mereka
berkompromi dengan kehidupan keras tersebut. Teknik bertahan hidup yang luar
biasa bukan?
Lalu
saya mulai mencermati satu hal,,, sepertinya, ada yang tidak wajar dengan
beberapa perempuan disini. Ya,,, mereka cantik. (kok berasa saya ngiri banget
ya? )tapi beberapa ada yang aneh. Entah di sekolah atau di rumah, saya sering
lihat wajah wajah perempuan-perempuan muda yang penuh melasma. Kenapa?
Ya,,,
sebagai pribadi yang insecure saya
lantas menajamkan mata untuk melihat lebih detail. Saat berbincang, sedikit,,,
saya mulai memperhatikan tekstur kulit mereka. Dead matte. Saya mulai memperhatikan perubahan kulit mereka saat
terkena matahari langsung. Pun, perbedaan warna kulit wajah dan tubuh. Dan saya
pun terhenyak.....nyak.
Apakah
kalian menggunakan krim-krim yang ajaib
itu nak?bu?nek?
Apakah
untuk sekali ini tebakan saya tepat tentang apa yang kalian oleskan di kulit
kalian yang berharga itu? Ahhh,, andai saja saya salah tebak lagi. Lalu
mulai mengelap air mata. Katakan kalau saya salah, karena itu yang ingin
saya dengar.
Suatu
pagi saat saya dan teman kos sedang mencangkul rumput-rumput liar di hati
, tetangga saya bercerita tentang ulah anak anak yang kadang berlebihan. Lalu
ia bercerita tentang indung telurnya yang diangkat, pun indung lain yang
sekarang abses. Saya pun mulai dengan seksama mendengar ia berpanjang kata. Tiba-tiba
saya berpikir untuk menanyakan...
“gadis
disini cantik cantik ya mbak?”
(iya,,,baru
2 minggu disana saya, muka saya sudah kecoklatan terbakar,, ini anak-anak
cantik nian dengan kulit seputih kapas sebening embun hilir mudik di depan
saya)
“ahhh,,pada
banyak yang pakai bayclin mbak”
JeGLAAAAAAAAAARRRRRRR
(sound effectnya kira kira gitu)
Ahhhhh...anggap
saja bayclin itu buat nyebut pemutih. Tapi saat si ibu bilang dicampur sama
handbody lotion placenta, plus salap (salep/krim) saya pun berpikir... oke...
ayo dengar baik baik.
Saya
pun ingin dipuji cantik, ingin tidak dibanding bandingkan dengan perempuan lain
yang berkulit lebih terang, yang struktur tulangnya dipahat indah. Ingin
dihargai selayaknya wanita pada umumnya.
Lalu
ketika saya perhatikan anak-anak yang bahkan diusia semuda itu sudah
menggunakan kosmetik antah berantah,,, batin saya tergerus. Kasihan kau nak...
Saya
cukup sadar bahwa judgement seperti yang saya tulis sekarang bisa membawa saya
ke ranah hukum. Tapi,, tahukah kalian kalau mereka benar-benar butuh edukasi?
Berapa banyak iklan komersil di tv yang menjual claim memutihkan, mencerahkan,
mencantikkan? Ya, beruntung sekali saya besar di kota yang akses pendidikannya
baik. Tapi bagaimana dengan anak-anak ini?
Makhluk tak teridentifikasi yang punya kulit wajah skintone pink, tapi
punggung tangan mereka dark yellow? Helloooooooooooooo. Siapa yang nantinya tidak
miris dengan keadaan dimana kulit sekitaran tulang pipi mulai ditumbuhi bercak
bercak melasma? Atau tumbuh bulu seperti saat menggunakan steroid? Atau tumbuh
kumis? Atau kepiting rebus saat kena sinar matahari? Atau mbrungsungi seperti ular saat pemakaian awal?
Ah,,
usiamu masih 16 tahunan kan nak? Usiamu masih sekitaran 30 tahunan kan bu? Dan
saya sudah terperangah dengan banyaknya kasus kanker yang diidap di daerah
saya. Saya melihat tetangga saya yang harus menunggu sekian waktu untuk bisa
hamil, melihat beberapa wanita keguguran, mendengar kisah angkat rahim, akankah
wanita wanita ini selamanya terjebak pada definisi cantik nan sempit? Yang
ternyata rebound effectnya jauh luarbiasa? Wallahu alam bi shawab.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar