Senin, 21 Juli 2014

Catatan Seorang Pendatang (Bagian Dua: Kalau saja ini Rahimku)



Hahahaha,,, oke,,setelan saya ternyata tidak di legal texting. Susah buat saya dapetin mood nulis dengan bahasa formal,, sounds too serious. Oke,,, ini lebay lagi deh kayaknya. Kenapa kok bawa bawa rahim???????? Hamil buk? Ama siapa? Heheheheeeee.. Nope. Ini bener bener topik yang bikin saya elus elus dada. Fyuhhhhh.....
Okay, let start!

Ehm.... banyaknya kekagetan yang beberapa waktu saya alami bener bener bikin brain fogging. Menjadi bagian dari keluarga besar Mesuji itu berkah. Bahkan, sampai detik inipun saya syukuri dalam dalam. Betapa pengalaman hidup di Jogja menjadi rencana indah Gusti Allah untuk bekal saya disini. Ya,,, inilah jalan yang sudah Gusti Allah gariskan ke saya. Amazing. Hingga Nalar dan Hati saya tidak henti bersyukur atas semuanya. :D Maturnuwun Gusti
Betapa pertama kalinya saya menjejak tanah Mesuji ini menjadi awalan kehidupan mandiri yang penuh perjuangan. Dan penempatan di Sungai Badak adalah rencana Indah lain yang Gusti Allah kasih ke saya. DAERAH PERAIRAN. Perkampungan tua yang menjadi cikal bakal mesuji. Lingkungan adat lama yang selama ini hanya saya baca di buku, internet, dan pikiran liar saya. Walaupun kos-kosan saya 30 menit jauhnya dari perairan, setidaknya, cukup memberi gambaran dimana saya mengabdi di tahun-tahun ke depan. 
Saya tinggal di perkampungan Jawa. Inilah kenapa adaptasi saya dengan warga sekitar termasuk lancar. Kesan pertama, saya berasa hanya pindah kampung. Dengan bahasa yang memang kesehariannya saya pakai, ibu ibu yang ramah, dan lingkungan yang menurut saya sih,, asri. Penduduk Jawa ini awalnya saya pikir transmigran yang memang dulu digalakkan di masa Presiden Soeharto. Tapi ternyata tidak. Mereka adalah para perantau berani yang memang mengadu nasib mereka di pelosok Mesuji. Hebat kan?
Saya dengar cerita mereka saat membuka lahan di mesuji. Bagaimana ikan gabus benar benar seperti telur kodok di musim hujan, banyak, tinggal ambil :D Awalnya saya pikir mereka dari jawa langsung ke mesuji. Ternyata salah Lagi (yeahhh,, tebakan saya salah muluk). Mereka adalah generasi kedua di keluarga mereka. Ayah Ibu mereka lah yang jauh jauh datang dari Jawa NGAPAK (banyumas, Purwokerto, Kebumen, Brebes) ke Pulau Sumatra. Tujuan mula mereka memang di daerah belitang. Itulah kenapa di Belitang, Jawa dominan, pun usaha pertanian padinya menjadi lumbung di Sumatra ini. Generasi kedua inilah yang akhirnya menyebar ke daerah daerah lain, termasuk mesuji. 
Ya, saya membayangkan tentang ketiadaan listrik, akses kesehatan yang jauh, jalanan yang sulit, air bersih yang langka. Dan saya takjub dengan bagaimana mereka berkompromi dengan kehidupan keras tersebut. Teknik bertahan hidup yang luar biasa bukan?
Lalu saya mulai mencermati satu hal,,, sepertinya, ada yang tidak wajar dengan beberapa perempuan disini. Ya,,, mereka cantik. (kok berasa saya ngiri banget ya? )tapi beberapa ada yang aneh. Entah di sekolah atau di rumah, saya sering lihat wajah wajah perempuan-perempuan muda yang penuh melasma. Kenapa?
Ya,,, sebagai pribadi yang insecure saya lantas menajamkan mata untuk melihat lebih detail. Saat berbincang, sedikit,,, saya mulai memperhatikan tekstur kulit mereka. Dead matte. Saya mulai memperhatikan perubahan kulit mereka saat terkena matahari langsung. Pun, perbedaan warna kulit wajah dan tubuh. Dan saya pun terhenyak.....nyak.
Apakah kalian menggunakan krim-krim yang ajaib itu nak?bu?nek?
Apakah untuk sekali ini tebakan saya tepat tentang apa yang kalian oleskan di kulit kalian yang berharga itu? Ahhh,, andai saja saya salah tebak lagi. Lalu mulai mengelap air mata. Katakan kalau saya salah, karena itu yang ingin saya dengar.
Suatu pagi saat saya dan teman kos sedang mencangkul rumput-rumput liar di hati , tetangga saya bercerita tentang ulah anak anak yang kadang berlebihan. Lalu ia bercerita tentang indung telurnya yang diangkat, pun indung lain yang sekarang abses. Saya pun mulai dengan seksama mendengar ia berpanjang kata. Tiba-tiba saya berpikir untuk menanyakan...
“gadis disini cantik cantik ya mbak?”
(iya,,,baru 2 minggu disana saya, muka saya sudah kecoklatan terbakar,, ini anak-anak cantik nian dengan kulit seputih kapas sebening embun hilir mudik di depan saya)
“ahhh,,pada banyak yang pakai bayclin mbak”
JeGLAAAAAAAAAARRRRRRR (sound effectnya kira kira gitu)
Ahhhhh...anggap saja bayclin itu buat nyebut pemutih. Tapi saat si ibu bilang dicampur sama handbody lotion placenta, plus salap (salep/krim) saya pun berpikir... oke... ayo dengar baik baik. 
Saya pun ingin dipuji cantik, ingin tidak dibanding bandingkan dengan perempuan lain yang berkulit lebih terang, yang struktur tulangnya dipahat indah. Ingin dihargai selayaknya wanita pada umumnya. 
Lalu ketika saya perhatikan anak-anak yang bahkan diusia semuda itu sudah menggunakan kosmetik antah berantah,,, batin saya tergerus. Kasihan kau nak...
Saya cukup sadar bahwa judgement seperti yang saya tulis sekarang bisa membawa saya ke ranah hukum. Tapi,, tahukah kalian kalau mereka benar-benar butuh edukasi? Berapa banyak iklan komersil di tv yang menjual claim memutihkan, mencerahkan, mencantikkan? Ya, beruntung sekali saya besar di kota yang akses pendidikannya baik. Tapi bagaimana dengan anak-anak ini?
Makhluk tak teridentifikasi yang punya kulit wajah skintone pink, tapi punggung tangan mereka dark yellow? Helloooooooooooooo. Siapa yang nantinya tidak miris dengan keadaan dimana kulit sekitaran tulang pipi mulai ditumbuhi bercak bercak melasma? Atau tumbuh bulu seperti saat menggunakan steroid? Atau tumbuh kumis? Atau kepiting rebus saat kena sinar matahari? Atau mbrungsungi seperti ular saat pemakaian awal?
Ah,, usiamu masih 16 tahunan kan nak? Usiamu masih sekitaran 30 tahunan kan bu? Dan saya sudah terperangah dengan banyaknya kasus kanker yang diidap di daerah saya. Saya melihat tetangga saya yang harus menunggu sekian waktu untuk bisa hamil, melihat beberapa wanita keguguran, mendengar kisah angkat rahim, akankah wanita wanita ini selamanya terjebak pada definisi cantik nan sempit? Yang ternyata rebound effectnya jauh luarbiasa? Wallahu alam bi shawab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar