Ya, ini seperti menaiki tangga
dan kembali turun untuk kemudian menaikinya kembali.
Inilah
yang sedang saya alami. Setelah menunggu berbulan bulan, akhirnya saya kembali
menjejak kaki di tanah Mesuji. Tidak seberat yang saya bayangkan, meninggalkan
Jogja untuk bergulat di tanah baru yang saya pilih untuk mengabdi. Bayangkan
tentang sebuah pengabdian, maka semangat yang muncul itulah yang menjejali hati
saat itu.
Kesempatan
ketiga saya di Mesuji, setidaknya membuka wawasan tentang kabupaten baru
tersebut. Luasnya Pulau Sumatra, benar saya rasakan disini. Sebagai pemekaran
kabupaten Tulang Bawang, menurut saya, Mesuji pun masih terbilang sangat luas.
Dengan hanya 7 kecamatan di kabupaten ini, saya membayangkan beban administrasi
yang dihadapi oleh Pemda dan petugas kecamatan disana.
Saat
pembekalan oleh Bupati Mesuji, Khamamik SH, akhirnya saya tahu kalau Mesuji
masih satu rumpun dengan warga Sumatera Selatan. Melayu. Yes. Tentu saja ini
mengejutkan saya, well,, saya ini lahir dan besar di Jawa. Saya hanya tahu
(kebanyakan orang jawa juga sebenarnya) kalau lampung bagian dari Sumatra.
Bahkan, dulu saya anggap lampung itu salah satu kabupaten di Sumatra (yeahhh,,
poor me). Jadi, dengan banyaknya informasi yang saya terima akhir akhir ini,, i
feel so overwhelming btw.
Perbedaan
suku bangsa dengan suku bangsa Lampung, membuat Mesuji khas, inclusive. Inilah
yang saya rasakan saat ditempatkan di wilayah perairan. Ya, perairan. Bukankah
nama Mesuji sendiri diambil dari nama sungai yang membentang luas mengelilingi
kabupaten ini? Bukankah Gangga, Hwang Ho, Nil, menjadi saksi tumbuhnya
peradaban kuno yang luar biasa? Maka, inilah Mesuji yang saya datangi. Saya pun
ingin menyaksikan bagaimana peradaban di tanah ini berkembang.
Menemui
warga asli, penghuni kampung tua di Mesuji adalah sebuah berkah, dan penempatan
di daerah perairan merupakan hadiah bagi perantau seperti saya, hehehe. Well,
sebenarnya, banyak gerutu yang saya dengar dari teman-teman tentang penempatan,
tapi, beda kepala beda isi kan?
Pengalaman
pertama menemui anak-anak di sekolah membuat saya terpana. Inilah MESUJI jeng.
Dalam makna sebenarnya J
Bagaimana mungkin kamu bisa menjadi pendidik kalau menyelami dimensi berpikir
anak didikmu saja, alam bawah sadarmu menolak? Ahh,,jangan dianggap serius, saya hanya ingin sedikit lebay. Tentu
saja, tentu saya kaget, terpana, gegar budaya. Inilah MESUJI sebenarnya.
Anak-anak ini punya semangat luar biasa. Saya menemui 9 anak yang bahkan
memilih bunuh diri kalau sampai gagal sekolah. Saya menemui anak-anak yang
minta dispensasi 2 minggu libur karena harus ke pulau Bangka bekerja.
Sayangnya, anak anak itu persentasenya sangat sedikit L Saya masih tertegun, hingga saat
ini, dengan anak-anak yang bahkan dengan orang yang lebih tua pun, jarang mereka
tunduk. Saya melihat banyak anak laki-laki dengan kuku sepanjang galah, cincin
warna emas mentereng di kelima jari mereka, hilir mudik tanpa sapa di depan
guru-guru mereka. Pun demikian dengan para gadis yang beraes ala-ala penonton berbayar di dahsyat, inbox, fesbuker, YKS. Apakah
golongan ini mayoritas jeng? Untungnya tidak.
Saya masih punya anak anak tipe pengGALAU yang masih bisa
ditarik ke ruang konseling. Saya masih melihat banyak anak yang dengan riang
gembira tertawa lepas melihat nilai ujian mereka tertempel di dinding. Ya,
anak-anak ini saling tertawa melihat angka 1, 2, 3 menghiasi daftar peserta
remidial sekolah. Betapa hidup adalah kebahagiaan, dan sekolah adalah pertemuan
kebahagiaan tersebut. Syukurlah
Tempat
pertama yang saya kunjungi di Mesuji adalah Brabasan. Melihat bagaimana byarr
pettnya listrik di sini membuat saya berpikir tentang nasib alat elektronik
saya. Bagaimana dengan laptop, hape, slow cooker, setrika yang saya bawa dari
Jogja? And it happen.
Kontrakan
saya tentu saja jauh dari brabasan. Kami memang berniat mencari rumah yang bisa
diakses dengan jalan kaki ke sekolah. Bangunan baru, dengan harga luar biasa. 6
juta untuk bedengan dengan satu kamar diisi bertiga itu luar biasa. Harga yang
tidak masuk akal, tapi kami pun enggan terlalu jauh dari sekolah. Padahal saya
membayangkan harga 6 juta di bandar lampung, metro, pastilah sudah dapat rumah
dengan listrik stabil, akses mudah, free wi fi. Sebandingkah dengan akses jalan
ke daerah kami sekarang? Mungkin.
![]() |
| pemandangan depan kos,,no,,ini bukan hutan terlarang di Harry Potter. ini hanya agak spooky pagi hari :) taken by my roommate |
Ya,
inilah saya sekarang. Jangankan slow cooker, pompa air saja tidak berfungsi
karena listrik belum stabil, dan saya pun berharap, pembangunan gardu induk
listrik di Simpang Pematang benar-benar klaar
pertengahan tahun 2015 esok. Sungguh, saya sangat ingin mengajar menggunakan
proyektor.
Seperti
yang saya tulis di awal,,, tangga yang telah saya naiki, harus saya turuni
lagi, untuk kemudian ditapaki lagi, entah dengan kecepatan seperti apa, namun
saya terahmati karena bisa menjadi bagian dari Mesuji yang sekarang.
*sebuah
tulisan serius yang setelah saya baca, aneh juga rasanya :D

Tidak ada komentar:
Posting Komentar