Senin, 21 Juli 2014

Catatan Seorang Pendatang (Bagian Satu: Sebuah Garis yang Tebal)




Ya, ini seperti menaiki tangga dan kembali turun untuk kemudian menaikinya kembali.


Inilah yang sedang saya alami. Setelah menunggu berbulan bulan, akhirnya saya kembali menjejak kaki di tanah Mesuji. Tidak seberat yang saya bayangkan, meninggalkan Jogja untuk bergulat di tanah baru yang saya pilih untuk mengabdi. Bayangkan tentang sebuah pengabdian, maka semangat yang muncul itulah yang menjejali hati saat itu.

Kesempatan ketiga saya di Mesuji, setidaknya membuka wawasan tentang kabupaten baru tersebut. Luasnya Pulau Sumatra, benar saya rasakan disini. Sebagai pemekaran kabupaten Tulang Bawang, menurut saya, Mesuji pun masih terbilang sangat luas. Dengan hanya 7 kecamatan di kabupaten ini, saya membayangkan beban administrasi yang dihadapi oleh Pemda dan petugas kecamatan disana. 


Saat pembekalan oleh Bupati Mesuji, Khamamik SH, akhirnya saya tahu kalau Mesuji masih satu rumpun dengan warga Sumatera Selatan. Melayu. Yes. Tentu saja ini mengejutkan saya, well,, saya ini lahir dan besar di Jawa. Saya hanya tahu (kebanyakan orang jawa juga sebenarnya) kalau lampung bagian dari Sumatra. Bahkan, dulu saya anggap lampung itu salah satu kabupaten di Sumatra (yeahhh,, poor me). Jadi, dengan banyaknya informasi yang saya terima akhir akhir ini,, i feel so overwhelming btw.

Perbedaan suku bangsa dengan suku bangsa Lampung, membuat Mesuji khas, inclusive. Inilah yang saya rasakan saat ditempatkan di wilayah perairan. Ya, perairan. Bukankah nama Mesuji sendiri diambil dari nama sungai yang membentang luas mengelilingi kabupaten ini? Bukankah Gangga, Hwang Ho, Nil, menjadi saksi tumbuhnya peradaban kuno yang luar biasa? Maka, inilah Mesuji yang saya datangi. Saya pun ingin menyaksikan bagaimana peradaban di tanah ini berkembang. 

Menemui warga asli, penghuni kampung tua di Mesuji adalah sebuah berkah, dan penempatan di daerah perairan merupakan hadiah bagi perantau seperti saya, hehehe. Well, sebenarnya, banyak gerutu yang saya dengar dari teman-teman tentang penempatan, tapi, beda kepala beda isi kan? 

Pengalaman pertama menemui anak-anak di sekolah membuat saya terpana. Inilah MESUJI jeng. Dalam makna sebenarnya J Bagaimana mungkin kamu bisa menjadi pendidik kalau menyelami dimensi berpikir anak didikmu saja, alam bawah sadarmu menolak? Ahh,,jangan dianggap serius, saya hanya ingin sedikit lebay. Tentu saja, tentu saya kaget, terpana, gegar budaya. Inilah MESUJI sebenarnya. Anak-anak ini punya semangat luar biasa. Saya menemui 9 anak yang bahkan memilih bunuh diri kalau sampai gagal sekolah. Saya menemui anak-anak yang minta dispensasi 2 minggu libur karena harus ke pulau Bangka bekerja. 

Sayangnya, anak anak itu persentasenya sangat sedikit L Saya masih tertegun, hingga saat ini, dengan anak-anak yang bahkan dengan orang yang lebih tua pun, jarang mereka tunduk. Saya melihat banyak anak laki-laki dengan kuku sepanjang galah, cincin warna emas mentereng di kelima jari mereka, hilir mudik tanpa sapa di depan guru-guru mereka. Pun demikian dengan para gadis yang beraes ala-ala penonton berbayar di dahsyat, inbox, fesbuker, YKS. Apakah golongan ini mayoritas jeng? Untungnya tidak. 

Saya masih punya anak anak tipe pengGALAU yang masih bisa ditarik ke ruang konseling. Saya masih melihat banyak anak yang dengan riang gembira tertawa lepas melihat nilai ujian mereka tertempel di dinding. Ya, anak-anak ini saling tertawa melihat angka 1, 2, 3 menghiasi daftar peserta remidial sekolah. Betapa hidup adalah kebahagiaan, dan sekolah adalah pertemuan kebahagiaan tersebut. Syukurlah 

Tempat pertama yang saya kunjungi di Mesuji adalah Brabasan. Melihat bagaimana byarr pettnya listrik di sini membuat saya berpikir tentang nasib alat elektronik saya. Bagaimana dengan laptop, hape, slow cooker, setrika yang saya bawa dari Jogja? And it happen.
Kontrakan saya tentu saja jauh dari brabasan. Kami memang berniat mencari rumah yang bisa diakses dengan jalan kaki ke sekolah. Bangunan baru, dengan harga luar biasa. 6 juta untuk bedengan dengan satu kamar diisi bertiga itu luar biasa. Harga yang tidak masuk akal, tapi kami pun enggan terlalu jauh dari sekolah. Padahal saya membayangkan harga 6 juta di bandar lampung, metro, pastilah sudah dapat rumah dengan listrik stabil, akses mudah, free wi fi. Sebandingkah dengan akses jalan ke daerah kami sekarang? Mungkin.
pemandangan depan kos,,no,,ini bukan hutan terlarang di Harry Potter. ini hanya agak spooky pagi hari :) taken by my roommate

Ya, inilah saya sekarang. Jangankan slow cooker, pompa air saja tidak berfungsi karena listrik belum stabil, dan saya pun berharap, pembangunan gardu induk listrik di Simpang Pematang benar-benar klaar pertengahan tahun 2015 esok. Sungguh, saya sangat ingin mengajar menggunakan proyektor. 

Seperti yang saya tulis di awal,,, tangga yang telah saya naiki, harus saya turuni lagi, untuk kemudian ditapaki lagi, entah dengan kecepatan seperti apa, namun saya terahmati karena bisa menjadi bagian dari Mesuji yang sekarang.

*sebuah tulisan serius yang setelah saya baca, aneh juga rasanya :D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar